Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dengan label Kumoh National Institute of Technology

Professor Sabbatical? Gimana dong?

Hai semua! Bulan ini tepat satu tahun professor saya sabbatical di Seattle. Nah, jadi setelah satu semester saya di lab Echem Agustus 2018 lalu, professor saya harus sabattical selama satu tahun. Itu artinya lab akan berjalan tanpa kehadiran professor secara fisik.  Kalau ditanya gimana rasanya, ya ada enak dan enggaknya. Ada positif dan negatifnya. Apa sih sabbatical itu? Kalu disearch via google, ini artinya: " A period of paid leave granted to a university teacher to other worker for study or tavel, traditionally one year for every seven years worked." Nah, professor saya ini udah ngajar di univ yang sekarang selama kurang lebih tujuh tahun, maka dari itu ia dapat mengambil kesempatan rehat selama satu tahun, tetapi masih digaji. Selama satu tahun itu, biasanya professor enggak leha-leha di rumah gitu, tapi milih buat gabung jadi research fellow di universitas tertentu. Universitas tujuan ini juga terserah mau di dalam negeri ataupun luar negeri. Intinya profe...

Kamu berubah nggak sih?

Hi pembaca curhatan kalea! Kalea kadang kepikiran, apa iya aku berubah? Kalo iya, apa aja sih yang berubah? Oke kali ini aku  mau share sedikit. Kalo para vlogger pada cerita dalam bentuk video terus diupload, nah saya nulis aja yah. Nggak tau kenapa lebih nyaman nulis dari pada ngomong. Pertama kali dateng ke Korea itu di penghujung Februari, atau itung aja mulai Maret. Berarti ini udah ada tujuh bulan hampir setahun. Nah, selama beberapa bulan itu aku ngerasa mulai ada beberapa perubahan. Oke dibahas satu-satu. Hasil masak ala kadarnya :D Pertama, di sini ngerasa lebih bugar. Alasan pertama, disini makannya lebih teratur, tiga kali sehari. Sarapan, makan siang, dan makan malam selalu teratur. Cuman, hal yang nggak baik tetep ada sih. Misalnya, makan indomie lebih sering dari pada di Indo. Dulu makan indomie itu paling seminggu sekali. Ya intinya sebulan bisa dihitung lah. Lah pas disini barulah kerasa kalo indomie itu enak banget. Jadilah indomie bisa sem...

Busan Fireworks Festival (부산 불꽃축제)

Hi again! Tulisan kali ini lagi-lagi soal liburan. Bukannya karena kami punya banyak uang dan waktu luang, tapi sebenernya ini di sempet-sempetin biar tau tempat-tempat refreshing di Korea yang nggak nguras kantong. Maklum, mahasiswa harus ekstra hemat. Akhir pekan kali ini (27-28 Oktober 2018) saya dan tiga orang teman saya memutuskan untuk pergi ke Busan. Agenda utamanya yaitu nonton festival kembang api tahunan yang ada di pantai Gwangalli. Untuk menuju ke Gwangalli beach, kalian harus naik kereta menuju stasiun Busan sambung naik subway line 2 dengan tujuan Geumnyeonsan station (exit 1 dan 3) atau Gwangan station (exit 3 dan 5).  Dari exit subway kalian harus jalan sekitar sekilo untuk sampai ke bibir pantai. Mudah kan? Semalem sebelum berangkat, saya sempet di beri tips-tips oleh kak Alif yang tahun lalu juga nonton festival ini. Tips pertama, bawa bekel jajanan karena sekalinya udah nyampe di lokasi bakalan susah bergerak. Kedua, jangan lupa ke toilet dulu biar nggak ri...

Hiking Geumosan

Hai pembaca bloggerku! Ini udah beberapa bulan setelah salah satu temen saya pindah ke negara lain buat studinya. Nah, waktu itu tepat sebelum dia pergi, kami sempet nonton berita di tivi yang kebetulan waktu itu liputannya musim gugur di Korea. "Nanti kamu ke Geumosan, bagus kayak di situ (di liputan tivi)," begitu ucapnya. Yap, beberapa pekan kemudian teman-teman Indo yang ada di sini merencanakan untuk mendaki Geumosan. Geumosan artinya Geumo mountain. "San" dalam bahasa korea artinya mountain. Geumosan menjadi landmark kota Gumi, sebuah kota industri yang ada di korea. Cara sampai ke tempat ini sangatlah mudah. Bagi kalian yang posisinya sekitaran Seoul atau yang lain, kalian harus naik kereta dengan tujuan Gumi. Dari stasiun gumi, kalian bisa naik taksi ke titik awal pendakian sekitar 10 menit. Mudah kan? Tanggal 20 Oktober 2018, pagi-pagi setelah sarapan omuk di dekat stasiun Gumi, kami berkumpul di titik awal pendakian. Ada sekitar tiga pos pemberhen...

Puasa di Korea?

Ramadhan udah lewat... :(( tapi tulisan ini baru di posting :(( Oke, tak masalah. Semoga ini jadi gambaran bagi teman-teman yang tahun depan mau puasa di Korea atau yang penasaran gimana rasanya puasa di Korea. Yap, ini pertama kalinya saya puasa di negeri orang, yang mana orang-orang umumnya nggak puasa dan aktivitas tetep jalan seperti biasa, nggak ada spesial-spesialnya. Banyak yang nanya gimana sih rasanya puasa di sana? berapa jam? dan masih banyak lagi yang nanya seputar puasa di Korea. Sebenernya ini udah kali keberapa (nggak keitung) saya puasa jauh dari orang tua (maksudnya nggak di rumah gitu). Ya semenjak saya  move out dari rumah buat sekolah, puasa jauh dari keluarga itu udah jadi hal yang biasa. Nah, tapi yang berbeda kali ini adalah di lingkungan yang emang bener-bener beda dari tahun-tahun sebelumnya. Seperti yang teman-teman ketahui , di Korea memang banyak yang nggak beragama, jadi ya puasa menjadi tantangan tersendiri. Buka bersama di dapur Berapa jam...

Rasanya Kuliah di Korea? (Part 2, Belajarlah!)

Selamat datang bagi kalian yang baru pertama kali singgah di blog saya. Halo... Lanjut ke part 2 ya... bagi yang belum baca part 1 dan cerita-cerita lain, silakan habis ini lanjut ke tulisan-tulisan itu. :)) Nah di part ini saya akan lebih membahas yang kaitannya dengan kuliah atau hal akademik. Pas awal-awal kuliah di sini, tips mudahnya adalah akrabkan diri dengan mahasiswa Indonesia yang ada di sini, room-mate, dorm-mate, dan labmate. Why? Kalian akan membutuhkan banyak bantuan dari mereka, percayalah! Orientasi kampus Hari pertama kuliah, tentu saja isinya orientasi dari kampus. Orientasi seputar gambaran kehidupan kampus, manner, dan kebijakan-kebijakan yang ada di kampus maupun di Korea secara umum. Awal-awal di kampus, jangan biarkan dirimu terkurung di kamar asrama, keluarlah! Lihat-lihat suasana kampus, gedung-gedung kampus, dan tentu saja tempat-tempat di sekitar kampus. Hafalkan letak tempat-tempat penting di kampus, misalnya ruang lab, international office, stu...

Rasanya Kuliah di Korea? (Part 1, Berdamailah!)

Hi para gabuterss.... Tak terasa sudah lebih dari dua minggu saya hidup di negeri orang, alias di Korea sebagai mahasiswa KIT. Banyak yang tanya, gimana rasanya hidup sebagai mahasiswa di Korea, gimana kehidupan mahasiswa di kampus sini, dll yang inti pertanyaannya sebenarnya sama aja. Hehehe... Baiklah, dari pada jawab satu-satu lebih baik saya tulis saja di sini ya, tapi akan saya bagi jadi dua part supaya tidak terlalu panjang. :)) Awal-awal hidup di sini, perbedaan yang paling kerasa yaitu cuaca. Kebetulan ini masih winter, jadi ya dingin. Suhu bisa berkisar 0-20 an derajat celcius. Kemarin sempat turun salju, jadi suhu mungkin  bisa minus. Kalau dingin, gigi bisa bergetar sendiri, tangan terasa kebas dan beku saking dinginnya. Meskipun salju hujan lebat, kuliah tetap jalan seolah tidak terjadi apa-apa. Paling professor lebih pengertian aja kalau kami terlambat masuk lab, karena salju sedang lebat. Tapi selain itu, jadwal tetap berjalan seperti biasa. Kalaupun ada kelas d...

Study Abroad? (Part 3, Welcome to Korea)

Hai lagi... Sekalian deh ya mumpung saya masih longgar (besok sudah mulai ketemu prof dan ngelab, jadi sepertinya ke depan bakal agak susah ngeblog) jadi sekalian aja part 3 nya yaa... semoga pada enggak capek bacanya.. hehehe... Setelah berkas di submit ke admission, saatnya menunggu hasil. Deg-degan pasti iya, tapi tetep optimis karena prof sudah oke. Setelah setelah lama menunggu akhirnya pengumuman tiba. Saatnya mengurus visa. Sebelum urus visa, langsung urus dulu sertifikat bebas TB. (Baca postingan sebelumnya ya buat bebas TB dan visanya :D). Setelah keduanya sudah ditangan, langsung saja beli tiket. Nah, ini kesalahan fatalku waktu itu. Belilah tiket sekaligus bagasinya. Bodohnya diriku ini, beli tiket yang tak ada bagasinya. Alhasil bayar bagasi saja lebih dari empat juta (>.<). Serius itu sedih banget... Alhasil setelah di korea jadi harus ekstra hemat. Baiklah, itu sisi buruknya. Kita pindah aja ke sisi yang oke-oke saja ya... Hari itu tanggal 27 Februari 2018 ...

Study Abroad? (Part 2, The Consequence of Yes)

Yohowww.... Lanjut yuk ke part 2... Maaf lama update dari part 1. Hehehehe... Semoga kalian enggak bosen ya... Banyak yang tanya, gimana sih caranya bisa sampe sekolah di Korea? Yap, bakal kuceritakan. Di part satu, intinya saya dapat email dari professor yang intinya menerimaku sebagai mahasiswanya dan sebagai member di laboratoriumnya. So, konsekuensinya apa? Screenshoot application form Hari itu setelah dapat email dari Prof, langsung saya urus admissionnya alias pendaftaran masuk ke universitasnya. Waktunya sangat mepet, karena saya hanya punya satu hari saat itu. Siang dapat email dari prof pas di kantor, sorenya pulang dari kantor langsung berangkat ke kampus untuk urus berkas. Deadline pukul 5pm Korea, atau 3pm Indonesia. Oke, berarti saya punya waktu kurang dari 24 jam.  Sampai di kampus udah malem, ketemu sama junior (Hai Egy, Febri, dan para junior di SIM thanks for everything) buat dibantuin beberapa hal. Udah malem akhirnya balik ke kosan lama buat...

Study Abroad? (Part 1, I say Yes!)

Sudah lama saya ingin menulis ini. Rasanya akan jadi hal yang menumpuk dihati kalau uneg-uneg ini tak dikeluarkan.  Desclaimer : Saya nggak bermaksud sombong atau apa. Pendapat kalian adalah hak kalian. Disini saya hanya ingin berbagi bagaimana akhirnya, setelah sekian waktu Allah mewujudkan mimpi saya. Semoga ini jadi penyemangat bagi kawan-kawan yang juga berjuang untuk meraih mimpinya, berjuang untuk menuntut ilmu setinggi-tingginya agar kelak jadi hamba yang semakin taat pada-Nya. Kisah ini mungkin akan terbagi menjadi beberapa part. Tapi kali ini saya akan menceritakan hal-hal yang telah saya lalui sebelum akhirnya tiket emas ini benar-benar berada di tangan. Sejak awal tahun 2017, dosen saya selalu mengingatkan saya untuk mencoba mengemail beberapa professor yang sekiranya bisa membimbing saya di pascasarjana nanti. Sejak awal tahun pula saya sudah menyiapkan berkas-berkas pendaftaran entah ke berapa macam jenis beasiswa. Saya benar-benar menginginkan kuliah lanju...