Langsung ke konten utama

Study Abroad? (Part 3, Welcome to Korea)

Hai lagi...

Sekalian deh ya mumpung saya masih longgar (besok sudah mulai ketemu prof dan ngelab, jadi sepertinya ke depan bakal agak susah ngeblog) jadi sekalian aja part 3 nya yaa... semoga pada enggak capek bacanya.. hehehe...

Setelah berkas di submit ke admission, saatnya menunggu hasil. Deg-degan pasti iya, tapi tetep optimis karena prof sudah oke. Setelah setelah lama menunggu akhirnya pengumuman tiba. Saatnya mengurus visa. Sebelum urus visa, langsung urus dulu sertifikat bebas TB. (Baca postingan sebelumnya ya buat bebas TB dan visanya :D).

Setelah keduanya sudah ditangan, langsung saja beli tiket. Nah, ini kesalahan fatalku waktu itu. Belilah tiket sekaligus bagasinya. Bodohnya diriku ini, beli tiket yang tak ada bagasinya. Alhasil bayar bagasi saja lebih dari empat juta (>.<). Serius itu sedih banget... Alhasil setelah di korea jadi harus ekstra hemat. Baiklah, itu sisi buruknya. Kita pindah aja ke sisi yang oke-oke saja ya...

Hari itu tanggal 27 Februari 2018 orang serumah mengantarkanku ke bandara Adi Sucipto Jogja. Ya, karena bandara terdekat dari rumah bandara Adi Sucipto, maka perjalanan di mulai dari situ. Terimakasih kepada orang-orang rumah dan teman-teman yang sudah mengantar diriku ini ke bandara. At that time, I was so happy but I was sad though. Sebentar lagi berpisah dengan mereka.
Yap, sore itu saya terbang dari jogja menuju jakarta di bandara Soekarno Hatta. Senangnya disitu saya disambut oleh teman satu kos dulu di masa S1. Mba Uli, thank you very much atas semuanya. :)

Pukul 11 pm saya mulai check in dan sebagainya. Udah ya, tak usah dibahas lagi masalah bagasi itu. Beberapa barang saya buang di bandara demi mengurangi bagasi. (T.T). Lanjut check in ketika hampir pukul 1 am. Mata sudah mengantuk tapi harus bergerak. Nah di situ lah saya dipertemukan dengan kawan baru, namanya Jeong-u. Berawal dari dia meminjam pin (jarum pentul) untuk ambil simcardnya kami pun akhirnya mengobrol. Dia mahasiswa juga, tapi di daerah Daegu dan memang liburan ke Malaysia dan Jakarta beberapa hari lalu. Hari itu ia juga kembali ke korea. Hi Jeong-u, nice to see you. :)

Sambutan dari Cuc dan Seongsik :))

Setelah penerbangan dari Jakarta, kami transit di Kuala Lumpur, tepatnya di KLIA (Kuala Lumpur International Airport). Transit sekitar 2 jam 45 menit. Di KLIA itu lah saya juga bertemua dengan kak Aimi, cewek malaysia yang kini sudah mahasiswa tahun ke tiga di Hanyang University. Senang bisa bertemu kak Aimi, setidaknya dapat teman mengobrol. Meski dia cakap Malay mix English, tapi oke lah. Aku bicara dalam bahasa mix English juga dia oke. Hahaha...Oh ya, Jeong-u sedang ada urusan waktu itu, jadi tak bisa ketemu pas transit.

Lanjut penerbangan untuk 6 jam lebih 30 menit dan akhirnya pesawat mendarat di Incheon. Terharu rasanya akhirnya benar-benar di Korea. Hari itu mendung dan hujan, jadi udara korea semakin dingin. Brrr.... bagi saya, makhluk yang dari lahir hidup di daerah panas, perbedaan suhu sangatlah terasa. Dingin membuat tubuh menggigil. Setelah mendarat semua penumpang wajib melewati pemerikasaan di bagian imigrasi. Setelah itu lanjut ke bagian baggage claim, atau pengambilan barang di bagasi. Yap, disitu saya kembali bertemu dengan kak Aimi dan Jeong-u. Sayang kak Aimi harus buru-buru, jadi lah disitu ditemani Jeong-u. Ia membantu saya mengambil koper yang besar dan berat, lalu membantu mencarikan kartu untuk handphone. Tapi sayang, semua kartu handphone mahal banget dan hanya berlaku dalam hitungan hari. Akhirnya kuputuskan untuk bergantung pada wifi sementara ini. Jeong-u pun berlanjut membantu untuk beli tiket bus ke Gumi sekaligus menunjukkan platform busnya. Aaa....thanks a lot Jeong u. :)) Setelah urusan tiket bus dan platform kelar, Jeong-u harus segera melanjutkan perjalannanya ke Seoul. Tak lupa ia kembali meminjam pin dan mengganti kartu handphonenya. Bye Jeong-u... :(

Sendiri menuju Gumi, suhu kala itu empat derajat celcius benar-benar membuat menggigil. Tak lama kemudian bus menuju Gumi datang dan lanjutlah perjalanan ke Gumi. Empat jam perjalanan ke Gumi. Lama memang karena sempat agak macet karena hujan. Sepanjang perjalanan ingin rasanya lihat pemandangan, tapi mata ini rasanya mengantuk berat jadi hanya beberapa bagian saja. Sempat juga lihat turun salju. :))

Pemandangan dari kamar di dorm
Di terminal Gumi Cuc dan Seongsik sudah menunggu. Mereka adalah labmates atau teman lab. Mereka menyambut dengan sangat hangat. Cuc, cewek vietnam itu kini sudah masuk semester 4 master degree, jadi kurang satu semester ini dan dia akan lulus. Aaa...Cuc, I am going alone soon. Sementara Seongsik, cowok korea yang sangat hangat itu ialah teman satu grupnya Cuc. Senang sekali dijemput oleh Cuc dan Seongsik di malam hari yang dingin dan hujan. Mereka rela kehujanan dan kediginan demi menjemput daku yang belum pernah mereka temui sebelumnya. Thanks a lot Cuc and Seongsik... :'))

Kami bertiga naik taksi menuju dormitory, tepatnya di Pureum 3. Sampai di dorm, dibantu Seongsik saya menemui officer yang totally berbahasa korea untuk check in dan registrasi finger print. Lanjut masuk ke dorm, Cuc membantu mengantar sampai kamar. Disitu ternyata sudah ada penghuni lainnya yaitu Yanjka dari Mongolia, Nila dari Bangladesh, dan satu lagi Ji Hyeon dari Korea.

Oke, selamat datang di KIT :))

Alhamdulillah, semua ini berkat doa dan dukungan dari kalian semua. Orang tua, guru, teman, dan semua yang tidak dapat disebut satu persatu. I love you all guys... :')) Mohon doanya ya, semoga studi saya lancar dan barokah. Aamiin :))

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masih Soal Faktor Luck

PART 2# KETIDAKBERUNTUNGAN Next, soal ketidakberuntungan. Bisa dibilang semester ini menjadi semester kelabu bagi saya. Beberapa kali saya mengikuti lomba karya tulis ilmiah baik tingkat provinsi maupun nasional, tak ada yang menang satupun. Bahkan untuk yan tingkat nasionanal, lolospun tidak. Entah sudah berapa karya yang saya buat dan berapa ratus ribu saya habiskan, tapi belum juga menampakkan hasilnya. Mungkin saya perlu banyak belajar lagi soal ini. Tapi entah mengapa diakhir semester ini saya justru bosan dengan hal itu, karena beberapa bulan ini, memang lomba karya tulis sedang menjamur. Hampir tiap pekan pasti ada dan itu tak hanya satu universitas yang menyelenggarakan, tapi banyak. Lanjut dari segi akademik, saya gagal di dua mata kuliah yaitu listrik magnet dan statistika. Untuk mata kuliah listrik magnet, saya akui memang sulit dan wajar jika mendapat C karena hampir semua mahasiswa mendapat nilai yang sama. Dosen sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengu...

10+1 Bahan makanan ini ada baiknya kamu bawa saat kuliah di luar negeri!

Hai semuanya! Di artikel sebelumnya saya udah nulis tuh, benda apa saja yang perlu dibawa saat kamu kuliah ke luar negeri. Nah kali ini saya mau bahas spesifik ke produk makanan. Hahaha... Jauh dari rumah menuntutmu untuk mandiri, termasuk mandiri dalam hal makanan. Tak heran kalau kamu harus menyempatkan dirimu untuk memasak dan memastikan kamu makan teratur. Ini semua demi kesehatan kamu juga lho! Oke, kemarin pas saya balik ke Indonesia ada banyak bahan makanan yang saya bawa. Hampir satu koper full isinya bahan makanan. Eits, jangan diketawain! Kak alif yang semester lalu pindah ke Perancis juga isi satu kopernya full bahan makanan. Hahahaha...  Berikut ini 10+1 bahan makanan yang kusaranin buat dibawa. Apa aja? Mie Instan (indomie) Indomie jadi brand nomor satu soal mie instan. Varian rasanya yang lumayan banyak, harga yang terjangkau, dan cara memasaknya yang super gampang menjadikan mie instan (indomie) jadi bekal yang oke banget buat dibawa. Sebenarnya indo...

Tim 9 Ninja in Action (KKN Wonogiri)

KKN untuk wilayah Wonogiri diselenggakan di desa Tambakmerang, kecamatan Girimarto, sekitar 30 km dari pusat kabupaten. Saya bersama 8 orang teman saya, mendapat jatah di wilayah tersebut. Tim kami beri nama 9 ninja, terdiri dari Anam Lutfi (Ekonomi Pembangunan, 2011) sebagai koordinator, Dicky Alfindana (POK, 2008), Mindarsih (PLB, 2009), Arby Nur Zaman (Peternakan, 2009), Rikko Aryanto (Sastra Jawa, 2010), Beta Alfisyahri Putri (ITP, 2010), Putri Isabel (Agribisnis, 2010), Yuni Puji Lestari (Agribisnis, 2010), dan saya sendiri Anafi Nur ‘Aini (P.Fisika, 2012). Hari Rabu, 21 Agustus 2013 menjadi awal perjalanan kami. Selesai pelepasan oleh rektor di depan kantor LPPM, kami bersembilan bersama tiga DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) langsung menuju lokasi. Kami disambut sejuknya udara desa Tambakmerang setelah melalui jalan yang berkelok-kelok dan menanjak. Tujuan pertama kami yaitu kantor desa untuk penerimaan secara resmi oleh pihak desa yang diwakili perangkat desa. Selanjutnya ka...