Langsung ke konten utama

Pohang, Kota Pantai di Korea

Hai semuanya,

Akhir Agustus lalu, saya mendapat undangan dari Jieun, labmate saya yang sudah lulus untuk berkunjung ke rumahnya di Pohang. Saya senang sekali, ini kali pertama saya menginap di rumah teman Korean. Yeeyyyy...


Jumat malam setelah jam lab, saya berangkat ke Pohang. Jieun sudah bersiap menjemput saya di terminal. Terharu sekali, ini seperti pulang kampung dan ada yang menjemput di terminal. :') Tapi serius, perjalanan kali ini benar-benar serasa pulang ke rumah. Sesampainya di rumah Jieun, kami makan malam. Malam itu kami menghabiskan waktu di depan tv sambil bercerita panjang lebar. 

Esok harinya, aroma sedap tercium dari kamar. Kaget, karena ternyata Jieun sedang menggoreng ikan untuk kami sarapan. Saya pun segera bergegas membantu. Lagi-lagi saya merasa tersentuh, Jieun sangat paham tentang makanan apa saja yang tidak bisa saya makan sebagai seorang muslim. Tentu ia sudah memastikan bahwa makanan yang ia sajikan aman. Saya juga terharu karna ternyata mamanya telah menyiapkan kue ttok (kue beras khas Korea) karen beliau tahu saya akan berkunjung. Sayang sekali tidak bisa bertemu orang tua Jieun karena mereka sedang berlibur ke luar kota.

Setelah sarapan, kami bersiap-siap. Seperti yang sudah direncanakan, Jieun ingin membawa saya berkeliling Pohang dengan sejuta pantainya. Pohang memang berbatasan langsung dengan laut, tak heran jika kota ini punya banyak pantai. Tujuan pertama kami yaitu salah satu lokasi syuting drama When the Camelia Blooms, sebuah drama yang cukup populer di Korea beberapa waktu lalu. Ternyata lokasi ini sangat dekat dengan port. Di kawasan inilah marinated crab menjadi menu andalan. Oleh karena itu, jika ingin merasakan kepiting segar, pergi ke tempat ini sepertinya sangatlah cocok.

Lokasi kedua yang kami kunjungi yaitu Homigot. Tempat ini sangat hits dengan patung tangan yang muncul dari dasar laut. Kawasan ini sangat ramai di akhir pekan. Dari pada pantai, menurut saya tempat ini lebih mirip ke port, tapi tidak ada kapal yang merapat. Di lokasi ini pula banyak sekali burung camar yang hinggap di sekitar pantai. Jika berani, teman-teman bisa membeli snack udang di sekitar pantai lalu ambil satu dan acungkan ke udara. Dalam waktu dekat, seekor burung camar akan segera mengambil snack tersebut sembari terbang. Sungguh pemandangan yang luar biasa, bisa melihat burung dari jarak sangat dekat.

Karena terlalu ramai, kami pindah ke pantai yang lain. Pantai yang kami kunjungi kali ini tidak bernama, karena memang cukup sepi dan hanya ada beberapa orang saja. Lokasinya tepat di pinggir jalan. Kami menepi lalu turun ke bawah di area pantai. Sejenak bermain ombak, kami rebahan diatas kerikil-kerikil. Suasanya yang sepi dan hanya ada debur ombak sangatlah menyenangkan. Sembari sunbathing, kami bercerita satu sama lain, hingga tak terasa kami tertidur beberapa menit. 

Hari sudah hampir sore dan kami belum makan siang. Kami pun melanjutkan perjalanan. Kami mampir di salah satu restoran ikan yang direkomendasikan teman kerja Jieun. Karena bukan jam makan, maka restaurant tidak terlalu ramai. Pemilik resto sangatlah ramah. Kami makan satu ekor besar ikan mentah yang disiram saus asam. Bagian sirip dan kepala ikan dimasak sup. Sungguh makan siang yang sangat-sangat enak. Sayangnya saya sudah lupa nama resto tersebut :(


Keluar dari resto, pemandangan pantai di depan mata. Cukup menyeberang jalan, maka kami sudah berada di pantai. Jadilah kami main-main sebentar di pantai. Lokasi ini mengingatkan saya tentang pantai Gwangalli di Busan. Cafe dan resto berjajar tepat di depan pantai. Di tempat ini banyak olahraga air entah apa namanya. Seperti kano tapi punya layar dan digerakkan angin. Menikmati suasanya sore hari di tempat ini cukup menyenangkan.

Kami kekenyangan dan terasa mengantuk. Oleh karena itu kami memutuskan beristirahat sejenak di rumah. Malam harinya, kami pergi ke Gwangju Donggung palace and Wolji Pond. Lokasi ini memang sangat terkenal dengan night viewnya yang memang super keren. Tak heran banyak pasangan pergi ke sini dan mengambil foto yang keren. Kalau kalian ke tempat ini, saya sarankan pergi di malam hari. Tempat ini tutup pukul 22.00, jadi jangan sampai terlambat ya. Sebelum pulang kami jajan churos, salah satu jajanan favorit kami. 

Hari yang panjang, sepulang dari Gwangju kami beristirahat. Pagi harinya, kami masih kelelahan. Hahahah... main seharian kemarin ternyata cukup menguras energi. Setelah sarapan, kami pergi sebentar ke salah satu cafe di pinggir pantai yang sayang sekali saya lupa namanya. (haduh...) Dibanding pantai sore kemarin, pantai ini lebih ramai karena ada motor boat dan banana boat yang ditawarkan untuk umum.

 

Saya harus bergegas kembali ke Gumi karena tugas-tugas minggu depan sudah menunggu. Kunjungan ke Pohang kali ini benar-benar seperti pulang ke rumah. Sebelum mengantar ke terminal, Jieun membungkuskan beberapa box banchan, atau makanan pendamping yang biasa disajikan saat makan di Korea. Huhuhuhu... :(( super terharu... Fix ini berasa pulang kampung.

Terimakasih Jieun dan family atas undangannya, terimakasih sudah menerima saya di rumah dan sangat-sangat baik. Terimakasih banyak, semoga Tuhan membalas kebaikan kalian dengan limpahan kesehatan dan rezeki. 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Masih Soal Faktor Luck

PART 2# KETIDAKBERUNTUNGAN Next, soal ketidakberuntungan. Bisa dibilang semester ini menjadi semester kelabu bagi saya. Beberapa kali saya mengikuti lomba karya tulis ilmiah baik tingkat provinsi maupun nasional, tak ada yang menang satupun. Bahkan untuk yan tingkat nasionanal, lolospun tidak. Entah sudah berapa karya yang saya buat dan berapa ratus ribu saya habiskan, tapi belum juga menampakkan hasilnya. Mungkin saya perlu banyak belajar lagi soal ini. Tapi entah mengapa diakhir semester ini saya justru bosan dengan hal itu, karena beberapa bulan ini, memang lomba karya tulis sedang menjamur. Hampir tiap pekan pasti ada dan itu tak hanya satu universitas yang menyelenggarakan, tapi banyak. Lanjut dari segi akademik, saya gagal di dua mata kuliah yaitu listrik magnet dan statistika. Untuk mata kuliah listrik magnet, saya akui memang sulit dan wajar jika mendapat C karena hampir semua mahasiswa mendapat nilai yang sama. Dosen sudah memberikan kesempatan kepada kami untuk mengu...

10+1 Bahan makanan ini ada baiknya kamu bawa saat kuliah di luar negeri!

Hai semuanya! Di artikel sebelumnya saya udah nulis tuh, benda apa saja yang perlu dibawa saat kamu kuliah ke luar negeri. Nah kali ini saya mau bahas spesifik ke produk makanan. Hahaha... Jauh dari rumah menuntutmu untuk mandiri, termasuk mandiri dalam hal makanan. Tak heran kalau kamu harus menyempatkan dirimu untuk memasak dan memastikan kamu makan teratur. Ini semua demi kesehatan kamu juga lho! Oke, kemarin pas saya balik ke Indonesia ada banyak bahan makanan yang saya bawa. Hampir satu koper full isinya bahan makanan. Eits, jangan diketawain! Kak alif yang semester lalu pindah ke Perancis juga isi satu kopernya full bahan makanan. Hahahaha...  Berikut ini 10+1 bahan makanan yang kusaranin buat dibawa. Apa aja? Mie Instan (indomie) Indomie jadi brand nomor satu soal mie instan. Varian rasanya yang lumayan banyak, harga yang terjangkau, dan cara memasaknya yang super gampang menjadikan mie instan (indomie) jadi bekal yang oke banget buat dibawa. Sebenarnya indo...

Tim 9 Ninja in Action (KKN Wonogiri)

KKN untuk wilayah Wonogiri diselenggakan di desa Tambakmerang, kecamatan Girimarto, sekitar 30 km dari pusat kabupaten. Saya bersama 8 orang teman saya, mendapat jatah di wilayah tersebut. Tim kami beri nama 9 ninja, terdiri dari Anam Lutfi (Ekonomi Pembangunan, 2011) sebagai koordinator, Dicky Alfindana (POK, 2008), Mindarsih (PLB, 2009), Arby Nur Zaman (Peternakan, 2009), Rikko Aryanto (Sastra Jawa, 2010), Beta Alfisyahri Putri (ITP, 2010), Putri Isabel (Agribisnis, 2010), Yuni Puji Lestari (Agribisnis, 2010), dan saya sendiri Anafi Nur ‘Aini (P.Fisika, 2012). Hari Rabu, 21 Agustus 2013 menjadi awal perjalanan kami. Selesai pelepasan oleh rektor di depan kantor LPPM, kami bersembilan bersama tiga DPL (Dosen Pembimbing Lapangan) langsung menuju lokasi. Kami disambut sejuknya udara desa Tambakmerang setelah melalui jalan yang berkelok-kelok dan menanjak. Tujuan pertama kami yaitu kantor desa untuk penerimaan secara resmi oleh pihak desa yang diwakili perangkat desa. Selanjutnya ka...